Tidak layak konsumsi, Bulog sortir 6.800 ton beras di Sumsel-Babel

Kami tetap pastikan, beras yang kami distribusikan kepada masyarakat merupakan beras yang layak dikonsumsi

Jakarta (ANTARA News) – Perum Bulog menyortir sebanyak 6.800 ton beras, yang mengalami penurunan mutu atau tidak layak konsumsi, di wilayah Divisi Regional (Divre) Sumatera Selatan dan Bangka Belitung.

“Terdapat beras turun mutu sebanyak 6.800 ton yang berlokasi di Bulog Divre Sumsel dan Babel. Saat ini, kami sedang melakukan mekanisme internal dengan dilakukan proses sortasi dan pemisahan di unit gudang yang berbeda untuk menghindari terkontaminasinya beras baik,” kata Sekretaris Perusahaan Perum Bulog Arjun Ansol Siregar di Kantor Pusat Perum Bulog Jakarta, Rabu.

Ia menjelaskan beras turun mutu yang terdapat di Bulog Divre Sumsel dan Babel adalah beras yang tidak untuk disalurkan dan merupakan hasil pengadaan dalam negeri yang berusia lebih dari satu tahun.

Sortasi dilakukan untuk memisahkan beras yang masih aman konsumsi dengan beras yang tidak aman konsumsi dengan terlebih dahulu dilakukan pengecekan di laboratorium bersertifikat.

Hasil laboratorium menjadi penentu langkah selanjutnya. Untuk beras dengan kualitas berada di bawah ambang batas keamanan pangan, akan dijual sebagai bahan pakan ternak, sedangkan beras yang tidak bisa untuk bahan pakan ternak akan dilakukan pemusnahan.

Adapun penugasan Perum Bulog untuk melakukan pembelian gabah atau beras dalam negeri mengacu kepada Inpres Nomor 5 Tahun 2015 tentang Kebijakan Pengadaan Gabah/Beras dan Penyaluran Beras Pemerintah.

Pengadaan yang cukup besar dan tidak diimbangi dengan penyaluran, mengakibatkan terjadinya penumpukan stok beras di gudang Bulog.

Selain itu, kebijakan pemerintah yang terus mengurangi pagu bantuan sosial beras sejahtera (rastra) setiap tahun secara bertahap ke bantuan pangan nontunai (BPNT) yang tidak mewajibkan komoditasnya (beras) berasal dari Bulog, ikut memengaruhi perputaran barang Bulog.

Pagu rastra di Provinsi Sumsel terus mengalami penurunan yakni dari 68.000 ton beras, menjadi 44.000 ton pada 2018.

Sementara pagu bansos rastra untuk Januari dan Februari menjadi sebanyak 5.400 ton. Hal ini tentu memengaruhi manajemen stok di Bulog.

Beras merupakan komoditas yang mudah rusak (perishable), karena dalam setiap butiran terdapat unsur-unsur kimia yang dapat mengalami perubahan fisiologis.

Beras dengan kualitas baik dan dirawat dengan baik, tetap memiliki batas usia penyimpanan, karena hingga saat ini belum ada teknologi perawatan yang bisa menghentikan perubahan fisiologis beras.

Perawatan beras yang dilakukan saat ini berfungsi memperlambat penurunan mutu beras.

“Kami tetap pastikan, beras yang kami distribusikan kepada masyarakat merupakan beras yang layak dikonsumsi,” kata Arjun.

Baca juga: DPRD OKU Timur temukan 1.500 ton beras Bulog busuk
Baca juga: Diusut, 6.000 ton beras busuk

 

Pewarta: Mentari Dwi Gayati
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019